Laman

Sabtu, 05 Februari 2011

AKIBAT KEDHALIMAN

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :
Allah swt. mewahyukan kepada Nabi Daud a.s : " Katakanlah kepada orang-orang yang melakukan kedholiman janganlah kalian berdzikir kepada-Ku (kecuali setelah bertaubat atau dalam usaha bertaubat) karena aku selalu memperhatikan orang yang berdzikir kepada-Ku. Tetapi perhatian-Ku terhadap orang (yang melakukan kedhaliman) berupa la'nat kepada mereka."
( HQR. Hakim dalam kitab tarikhnya, dan Dailami dan Ibnu 'Asakir' yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a.)

      Asal ma'na "kedhaliman" ialah aniaya dan melampaui batas yang telah ditentukan. Arti dhalim menurut ahli bahasa dan kebanyakan Ulama' ialah :  " Meletakkan sesuatu bukan pada tempat yang semestinya. Baik mengurangi, menambah atau mengubah waktu, tempat atau letaknya." Oleh karena itu kata kedhaliman diartikan sebagai penyimpangan dari ketentuan, baik besar ataupun kecil. Dikatakan orang itu dhalim apabila dosa sekalipun kecil, apalagi besar. Sebagian Hukama (Hukama : (dalam text ini) Ahli Filsafat Islam) membagi kedhaliman itu menjadi tiga :
1. Kedhaliman manusia terhadap Allah swt. : 
    Kedhaliman yang terbesar dari jenis ini adalah kufur (mengingkari Allah), syirik (menyekutukan Allah) dan nifaq' (mengaku beriman dengan lidahnya akan tetapi bathinnya menolak). Nifaq' yaitu menyembunyikan sikap kufur dalam bathin dengan memperlihatkan seolah-olah beriman (Ta'rifat hal. 219).
Allah berfirman dalam Al-Quran :
" Sesungguhnya menyekutukan Allah itu termasuk kedhaliman yang besar." (Q.S. 31 al-Lukman : 13)
" Siapakah yang lebih dhalim dari orang yang membohongkan' Allah. (Q.S. 39 az-Zumar : 32)
Keterangan : 'menganggap Allah bersekutu, beristri dan beranak. 
2. Kedhaliman manusia dengan sesamanya,  yaitu berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain rugi karena perbuatannya seperti melanggar janji, takabur, membuat keonaran dan sebagainya.
Kedhaliman inilah yang dimaksud dengan firman Allah :
" balasan terhadap yang jahat setimpal dengan kejahatannya. barangsiapa yang suka memaafkan dan berlaku damai, pahalanya akan dijamin Allah, karena sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melakukan kedhaliman." (Q.S. 42 as-Syura : 40)
3. Kedhaliman terhadap dirinya sendiri, yaitu berbuat maksiat dan kedurhakaan, seperti berzina, minum-minuman keras, dan melanggar larangan Allah, mengurangi atau menambah ketentuan yang ditetapkan Allah swt. dan sebagainya. Inilah yang dimaksud dalam Ayat :
" Ada sebagian dari mereka yang berlaku aniaya terhadap dirinya sendiri." (Q.S. 35 Fathir : 32)
    Tiga macam kedhaliman itu, pada hakikatnya bertitik tolak pada satu, yakni kedholiman terhadap diri sendiri. Orang yang hendak melakukan kedholiman terhadap orang lain, sebenarnya berarti telah mendhalimi dirinya sendiri. Si pendholim itulah yang pertama kali menderita akibat perbuatan dhalimnya, sedang orang lain, hanya sebagai akibat sekunder dari perbuatan dholim orang itu. Sebab itu Allah berfirman dengan jelas dalam Al-Quran :
" Dan barangsiapa yang melakukan demikian', sesungguhnya ia telah menganiaya dirinya sendiri." (Q.S 2 al-Baqarah : 231)
Keterangan : Di antaranya mentalak wanita waktu haid sehingga memperpanjang waktu iddah
" Dan mereka tidak menganiaya Kami, akan tetapi menganiaya diri mereka sendiri." (Q.S. 2 al-Baqarah : 57)
Allah swt. telah mewahyukan kepada Nabi dan Rasul-Nya :
     Daud a.s. agar melarang orang yang sedang melakukan kedhaliman mengatas namakan perbuatannya itu atas nama Allah atau menyebut-nyebut salah satu sifat-sifat-Nya. Seringkali orang yang melakukan kedhaliman, berpura-pura dzikir kepada Allah, seolah-olah hendak menipu Allah. Padahal orang yang melakukan dzikir dengan sesungguhnya, pasti akan menghentikan kedhalimannya, dan mereka merasa enggan atau ngeri melakukan kedhaliman. Orang yang seolah-olah berdzikir itulah yang telah menipu dirinya sendiri tanpa disadarinya.
    Allah berjanji akan selalu ingat kepada orang yang dzikir kepada-Nya dengan melimpahkan rahmat dan karunia dan ampunan-Nya. Akan tetapi bagi orang yang berpura-pura dzikir kepada Allah di saat melakukan kedhaliman, Allah akan ingat pula dengan mela'nat atau mengutuknya, sesuai dengan perbuatan yang tidak diridhai-Nya itu.
Sehubungan dengan dzikir (ingat kepada Allah) di dalam Al-Quran terdapat banyak sekali ayat-ayat yang mementingkan dan mengutamakan dzikir, di antaranya :

" Sesungguhnya dalam menciptakan kejadian langit dan bumi dan pergantian malam dan siang, benar-benar menjadi bukti (keterangan) bagi orang-orang yang mengerti. Orang-orang yang suka berdzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring, dan mereka merenungkan dan menganalisa kejadian langit dan bumi, (sampai berkesimpulan) : Rabbana, tidak sia-sia Engkau ciptakan ini. Maha Suci Engkau. Peliharalah kami dari siksa neraka." (Q.S. 3 Ali-Imran : 190-191)

" Orang yang ruju' kepada Allah adalah orang-orang yang beriman dan hatinya menjadi tentram karena dzikir kepada Allah. Perhatikan bahwa dzikir kepada Allah ( menyebabkan) hati menjadi tenang." (Q.S. 13 ar-Ra'd : 28)
Keterangan : Ruju' kepada Allah menerima yang hak. 
 ( Hadits Qudsi, K.H. M. Ali Usman - H. A.A. Dahlan - Prof. Dr. H. M.D. Dahlan)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar