Firman Allah dalam Hadits Qudsi :

Arti Rahman dalam kata "rahmati" adalah kasih sayang. Rahman atau rahmat manusia beda dari Rahmah Allah.
Pada manusia, rahmah berarti kasih sayang yang mendorong seseorang untuk melakukan kebaikan atau kebajikan kepada orang yang dikasihi. Terkadang semata-mata dipakai untuk perbuatan kebajikan saja, tanpa ada kasih sayang yang mendorong. Rahmat dari Allah berarti pemberian ni'mat dan karunia bukan dalam arti belas kasihan.
Allah bernama dan bersifat "Ar-Rahman" yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu yang ada, dan bersifat "Ar-Rahim" yang menunjukkan kasih sayang, karunia dan rahmat-Nya yang banyak sekali.
Asal arti "ghadlab" dari kata "ghadlaba", ialah meluap dan mendidihnya darah dalam hati atau jantung, yang begitu cepat naik ke kepala, sehingga terlihat pengaruhnya pada air muka dan matanya yang menjadi merah padam. Musuhnya atau orang yang mereka marahi pada pandangnnya menjadi kecil, seolah-olah dapat ditelannya bulat-bulat. Telinganya juga kelihatan merah dan kadang-kadang tak dapat mendengar nasihat orang lain, mulutnya terlihat gemetar dan menyemburkan caci-maki dan sumpah serapah serta kata-kata yang tidak sopan sama sekali, otak dan akal pikirannya kehilangan pertimbangan yang waras, karena dikuasai oleh amarahnya yang melampaui batas itu.
Darah yang mendidih itu juga menyebar sehingga tangannya gemetar dan mengepal serta diacung-acungkannya kepada lawannya. Kakinya pun mulai membuat langkah persiapan untuk menyerang.
karena itulah Nabi saw. menyebutkan dalam Hadits :
" Jagalah diri kalian dari ghadlab (marah), karena ia laksana bara api yang dinyalakan di dalam hati manusia. Bukankah kalian melihat mengembangnya leher dan memerahnya kedua biji matanya?".
Adapun kemurkaan Allah, dimanifestasikan dalam bentuk siksaan yang diberikan kepada orang yang bersalah, sehingga orang itu merasa gundah hati, sakit dan sebagainya, atau orang itu dikembalikan berjalan di jalan yang diridhoi Allah.
Allah telah memberitahukan hamba-Nya bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Dia. Juga Allah memberitahukan bahwa sifat kasih sayang kepada hamba-Nya berupa pahala dan karunia-Nya lebih didahulukan daripada hukuman dan siksa-Nya. Karena itulah Allah berfirman dalam surat al-Hijr :
" Beritakanlah kepada semua hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun dan Maha Pengasih, dan bahwa siksa-Ku adalah siksaan yang maha pedih". (Q.S. 15 al-Hijr : 49-50)
Didahulukannya rahmat atas kemurkaan-Nya itu adalah karunia dan kemurahan-Nya.
Barang siapa yang beriman dan percaya kepada-Nya, iman yang benar dan percaya yang sungguh-sungguh serta mengaku dan menetapkan kewahdaniatan-Nya (Keesaan-Nya), mengaku dan menetapkan dengan sepenuh hatinya kerasulan Nabi Muhammad, maka Allah swt. akan menempatkannya di dalam surga, suatu tempat ni'mat dan karunia yang maha besar lagi kekal dan abadi.
Dapatlah kita ambil pengertian bahwa sudah tentu tidaklah cukup dengan hanya semata-mata penyaksian lisan saja, sebab yang dinamakan "iman" adalah i'tiqad dan percaya dengan hati, pengakuan dengan lidah, dan pelaksanaan dengan seluruh anggota. Kalau sudah percaya dengan hati akan ke-Esaan Allah dan diucapkannya pula pengakuan itu dengan lidahnya (dua kalimah syahadat), hendaknya ia melaksanakan semua ajaran yang berupa perintah dan larangan Allah dengan tulus ikhlas dan sepenuh hati. Dengan demikian barulah ia berhak mendapatkan surga seperti yang telah dijanjikan dalam Hadits Qudsi di atas.
Syahadatut-Tauhid atau penyaksian terhadap ke-Esaan Allah dengan ucapan "La Ilaha Illallah" itu, menuntut beberapa hak, beberapa ketentuan, dan beberapa kewajiban. Demikian juga Syahadaturrisalah "anna Muhammadar-Rasulullah", menuntut keharusan mengikuti petunjuk beliau dengan melaksanakan sunnahnya.
Barangsiapa yang telah memenuhi syarat-syarat tersebut dengan penuh keikhlasan, ia berhak mendapatkan surga sebagaimana yang telah dijanjikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar