Minggu, 06 Februari 2011

LUASNYA AMPUNAN ALLAH

Allah swt. berfirman dalam Hadits Qudsi :
" Tidak pernah Aku murka kepada seseorang seperti murka-Ku kepada hamba yang telah melakukan ma'siat yang dipandang oleh dirinya sendiri sebagai dosa besar, dan berputus asa dari ampunan-Ku.
Sekiranya Aku menyegerakan hukuman atau sifat-Ku suka tergopoh-gopoh, pasti Kusegerakan hukuman itu terhadap orang-orang yang berputus asa dari rahmat-Ku.
Dan sekiranya Aku belum memberi rahmat kepada hamba-hamba-Ku, melainkan karena takutnya mereka berdiri di hadapan-Ku, sudah barang tentu Aku mengucapkan terima kasih kepada mereka dan Aku jadikan pahala mereka itu di antaranya ialah rasa aman dikala semestinya mereka merasa ketakutan". (HQR Rafi'i Najih bin Muhammad bin Muntaji' dari datuknya)

Allah swt. memberitahukan kepada kita bahwa Dia tidak pernah melakukan kemurkaan terhadap seorang hamba-Nya sebagaimana murka-Nya terhadap hamba-Nya yang pernah mengerjakan ma'siat, baik kecil maupun besar dan orang itu merasa ngeri serta menganggap perbuatannya satu dosa yang sangat besar tidak termasuk dalam lingkungan ampunan Allah.
Dalam hadits itu diterangkan bahwa sekiranya Allah suka terburu-buru menjatuhkan hukuman terhadap hamba-Nya, niscaya Dia telah menjatuhkan hukuman (siksaan) kepada orang-orang yang berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya.
Dalam hadits dapat kita ambil beberapa kesimpulan
1. Allah swt. memang betul-betul luas rahmat dan kasih sayang-Nya. Dia tidak mudah menjatuhkan hukuman dan siksaan kepada hamba-Nya. Dia membukakan pintu taubat selebar-lebarnya. barangsiapa yang merasa melakukan kesalahn kepada Allah swt. segeralah rujuk kepada-Nya dan taubat dengan penuh keyakinan, pasti diterima Allah taubatnya.
 2. Sifat terburu-buru dan tergesa-gesa bukan sifat Allah swt. Sifat itu adalah sifat iblis dan syetan. Karena itu kita manusia tidak boleh bersifat terburu-buru dan tergesa-gesa, agar kita tidak termasuk golongan syetan. Segala tindakan yang dilakukan perlu dipertimbangkan semasak-masaknya diselidiki sedalam-dalamnya, sehingga keputusan atau hukuman yang akan diambil telah diperhitungkan akibatnya.
3. 'Uqubah atau hukuman Allah pada pokoknya ada dua :
Hukuman yang dilaksanakan di dalam dunia, mungkin langsung mungkin ditangguhkan beberapa hari, minggu, bulan atau tahun.
Hukuman atau siksaan yang ditangguhkan mungkin dimaksudkan, untuk memberi tempo kepada yang bersangkutan untuk bertaubat. Apabila sudah tepat waktunya, baru hukuman itu dijatuhkan dan orang bersangkutan pun akan binasa.
Adapun hukuman Allah di Dunia berbentuk : (a) penyakit, mulai yang sekecil-kecilnya seperti tertusuk duri atau jarum, sampai yang sebesar-besarnya seperti lepra, TBC, jantung, penyakit jiwa dsb. (b) duka cita, kesulitan dan kesukaran, banyak hutang, dsb. (c) kesenangan, kemewahan harta benda yang banyak sehingga senatiasa repot dan sibuk mengurusinya. Kelihatannya rahmat, namun tidak lain adalah siksa belaka.
Hidup ini benar-benar penuh dengan ujian dan perjuangan.
4. Sifat putus asa dari rahmat Allah termasuk dosa besar (al-kabair) yang pantas dengan segera mendapatkan hukuman dan siksaan Allah. Meskipun demikian, Allah tidak segera menjatuhkan hukuman dan siksaan terhadapnya, karena sifat tergesa-gesa dan terburu-buru demikian, bukanlah sifat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Di dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat yang menunjukkan bahwa Allah akan mengampuni orang-orang yang bersalah, orang-orang yang melakukan ma'siat, orang-orang yang memboros, dan dosa lainnya betapa pun besarnya, kecuali dosa su'ul khatimah karena syirik.
Di dalam Al-Qur'an terdapat anjuran untuk segera kembali bertaubat dan jangan menangguhkannya Kita tidak mengetahui bilamana kita akan meninggal dunia. Sekiranya kita menangguhkan waktu taubat, mungkin kita mati dalam keadaan berlumuran dosa. Na'udzu billah min dzalik!
Allah berfirman :
"Katakanlah (wahai Muhammad) : "Wahai hamba-hamba-Ku yang etlah berlebih-lebihan merugikan diri sendiri. Janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa, karena Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Q.S. 39 az-Zumar : 53)

"Mereka (Malaikat) berkata (kepada Nabi Ibrahim) : "Kami membawa berita gembira yang benar kepadamu Karena itu janganlah engkau menjadi orang yang berputus asa". (Nabi Ibrahim) berkata : "Tiadalah orang yang berputus asa dari rahmat Rab-nya kecuali orang yang sesat". (Q.S. 15 al-Hijr : 55-56)

"Sesungguhnya Allah itu tidak akan mengampuni dosa  mempersekutukan (sesuatu) dengan-Nya, dan Dia mengampuni dosa selain dosa syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya". (Q.S. 4 an-Nisa : 48)

"Wahai Bani Adam! Apabila engkau mengajukan permohonan dan mengharap kepada-Ku, Ku-ampuni segala yang ada padamu tanpa perduli. Wahai Bani Adam! sekalipun dosamu bertumpuk-tumpuk hingga setinggi langit, tapi kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, niscaya Ku-ampuni dosamu. Wahai Bani Adam! Sekiranya engkau datang dengan dosa setimbang bumi, kemudian engkau menemui Aku (mati) dalam keadaan tidak mensekutukan Aku dengan sesuatupun, niscaya Aku karuniakan ampunan setimbang dosa itu". (HQR Turmudzi yang bersumber dari Anas r.a.)

"Sekiranya kalian melakukan kesalahan sampai memenuhi langit, kemudian kalian bertaubat, pasti Allah mengampuni kalian". (HQR Ibnu Majah dengan sanad yang jayid, yang bersumber dari Abu Hurairah r.a.)

Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud "taubat" di atas adalah "taubat nashuha", artinya taubat itu dari hatinya sesudah melalui pemikiran yang mendalam dan kembali pada jalan yang benar, serta merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah ditempuhnya itu. Ia memutuskan dalam hatinya untuk meninggalkan perbuatan itu, menghindarinya jauh-jauh serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi kesalahan dan perbuatan dosa.
Taubat nashuha mengandung tiga unsur: menyesal, menjauhkan diri dari dosa dan tidak akan mengulanginya lagi. Hal ini dapat terjadi apabila dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, dengan perasaan suci, niat yang bersih, penuh kepercayaan bahwa ia taubat dihadapan Allah Yang Maha Mengetahui segala rahasia yang tersembunyi di dalam lubuk hati. Allah Maha Melihat apa-apa yang dikerjakan hamba-Nya yang telah lalu, yang sekarang dan yang akan datang.
Apabila ternyata taubatnya tanpa merasa berdosa, dan tidak berhenti mengulangi perbuatan dosa itu serta tidak berusaha memperbaiki diri, maka taubatnya disebut taubat palsu dan hanya menipu dirinya sendiri. Orang itu termasuk dalam lingkungan bunyi ayat :
" Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman. Sebenarnya mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedang mereka tidak sadar dan tidak merasa". (Q.S. 2 al-Baqarah : 9)
Tanpa disadari, ia bukan taubat tapi menambah dosa yaitu menipu dirinya sendiri, seakan-akan menipu Allah dan Kaum Mu'minin. Oleh karena itu taubat nashuha sebelum terlambat pasti akan diterima Allah swt. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar